Hari ini saya baru saja mengikuti acara pelepasan burung hantu di desa sebelah yang di hadiri oleh Bapak Bupati Blitar Heri Nugroho, Bapak Kepala Dinas Pertanian Ir. Eko Priyo Utomo, Bapak Camat Srengat, Komisi 2 DPR. Di sini saya ingin sedikit menulis tentang burung hantu. Burung hantu yang saya tulis adalah jenis BURUNG HANTU SERAK JAWA, atau bahasa latinnya adalah TYTO ALBA. Burung hantu ini mempunyai ciri-ciri :
* Kepala besar dan paruhnya seperti kait.
* Mempunyai cakar yang kokoh.
* Muka lebar dan berbentuk seperti cakram.
* Sayap berbentuk bundar.
* Ekor pendek.
* Pada bagian bawah bulu lembut, berwarna putih atau kekuningan.
* Sisi atas ekor berwarna kekuningan dengan garis-garis hitam.
* Pada mata bagian atas berwarna coklat.
PERILAKU DAN HABITAT
● Aktif pada malam hari.
● Menghuni lubang pohon, atap gedung,jurang atau tebing jurang.
● Tidak pernah dijumpai bersarang di atas tanah.
● Dapat bersarang pada kandang buatan 〈gupon〉.
● Bisa dikembangkan di areal persawahan.
● Lokasi pertanian padi, disekitarnya banyak pepohonan.
● Tidak bersifat migratori.
● Bersifat penetap 1,6 – 5 km sekitar sarang.
PERILAKU MAKAN DAN MAKANAN
Anak burung hantu setelah berumur 7 minggu (periode berbulu) akan meninggalkan sarang induknya untuk mencari makanan sendiri. Burung hantu jenis ini dapat terbang sejauh 12. Mempunyai indra pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam dalam keadaan gelap, karena bisa menemukan mangsa dari jarak 500 meter. Saat terbang, burung hantu tidak mengeluarkan suara. Makanan yang spesifik adalah tikus (98 – 99 %), sementara sisanya adalah mamalia lainnya. Burung ini mempunyai cara makan yang unik yaitu bagian lemak dan daging dicerna, sedangkan tulang dan kulit serta rambut/bulu dipisahkan kemudian dikeluarkan dalam bentuk gumpalan(pelet) melalui mulut yang dijatuhkan di sekitar sarang.
Inilah yang sedikit saya tahu tentang burung hantu yang bisa di gunakan untuk mengendalikan hama tikus. Saya harap rekan-rekan bisa menambahkan.